Rabu, 27 Agustus 2008

Einstein Pertama


Untuk Ayahku,
Ayah kita,

Dan Semua Orang yang menginspirasi,
Menjadi Mentari di Hari yang Gelap


Jika hidup itu serupa Perjalanan panjang di dalam kereta besi yang melesat-lesat di atas Rel tanpa akhir, maka waktu adalah jutaan kilatan kenangan yang tergambarkan di jendela kereta. Kenangan itu berupa pengalaman-pengalaman yang mengajarkan kita berbagai macam hal, menjanjikan ilmu pengetahuan tanpa batas, dengan satu syarat: Sudilah kita menengok sejenak ke jendela. Banyak Orang yang menghabiskan waktu menekuni lembar demi lembar buku tentang hidup, Tentang Dunia, Tanpa tahu apa yang benar-benar terjadi disekitarnya. Mereka seumpama orang yang tidak kunjung punya pengalaman apapun dan mengakhiri hidupnya tanpa mempunyai pengalaman apapun. Adapun juga beberapa jenis orang yang menghabiskan umurnya lewat dongeng-dongeng, cerita-cerita pengalaman orang lain, bercangkir-cangkir kopi, dan jutaan puntung rokok.

Namun tak jarang ada beberapa jenis orang yang Menjalani hidupnya dengan berjalan. Selangkah demi selangkah. Tanpa sudi menginjakan kaki ke dalam Kenyamanan lantai besi kereta, Menolak janji-janji dan bualan-bualan metode ekspres menuju kesuksesan sejati. Orang-orang ini bak lampu jalan yang memandu orang lain disekitarnya. Seumpama matahari bersinarkan Pengalaman yang mencerahkan sepanjang hidup. Matahari dalam hidupku adalah seorang lelaki pantang Menyerah, Namanya Syamsudin Lausa, Ayahku, Einstein Pertamaku.







Aku masih kecil, keras kepala, dan nakal minta ampun untuk paham perjuangan ayah mempertahankan ekonomi keluarga. Aku bahkan belum lahir ketika ayah mengorbankan Pendidikannya. Dan mengabdikan seluruh hidupnya agar keluarganya bisa makan, agar adik-adiknya bisa bersekolah. Di kumpulan foto kepunyaan Nenekku-foto kuno itu sudah buram-, aku pernah melihat fotonya di kala bujang. Ayah seorang pemuda yang gagah. Ia bergaya menumpukan tubuhnya diatas onggokan besi sepeda motor trail model lama, mencengkeram erat kemudi kuda besi itu. Namun sesuatu yang tangguh tersembunyi di dalam matanya. Tatapan mata di foto itu mengawasi lekat siapapun yang mendekati foto itu.
Aku menatap foto itu, lama, lalu pria di dalam foto itu seolah tersenyum dan berkata, “Apa yang kau lihat bocah?..cih…pergi sana menangis pada ibumu…” aku hanya sanggup terdiam dan menatap kedua mata lelaki pendiam itu, lama.
Ayahku Adalah yang paling tertua dari sembilan bersaudara. Ia terbiasa bekerja tanpa ampun. Ayahku bukan dari golongan pegawai Negeri, pejabat pemerintah, maupun golongan-golongan bergaji tetap lainnya. Ayahku adalah Seorang Pedagang. Seorang pemilik toko dan percetakan kecil di pinggir kota. kami terbiasa berjudi dengan Tuhan, berjudi apakah kami masih bisa makan esok hari. Namun tak sekalipun kulihat ayah mengeluh, tak seharipun kusaksikan ayah berhenti bekerja.

Aku Sayang Ayahku, Sangat Sayang


Ayahku adalah lelaki Pendiam, setiap perkataanya selalu ditunggu dan didengarkan orang. Aku selalu mereka-reka apa yang ada di dalam kepalanya. Ayahku selalu mempunyai gambaran imajiner sederhana tentang apa itu kebahagiaan. Ia tidak punya gambaran fantastis tentang teori-teori manajemen, tidak kenal dengan Nietsche, Adam Smith, dan nama-nama aneh lainnya. Sebagai gantinya, Ia mengenal dengan betul keluarganya, apa yang mereka butuhkan dan tabiat paling nakal anak-anaknya. Aku sayang ayahku.

Ada beberapa jenis orang-yang menyebut dirinya Intelek-yang hanya mengenal lingkungannya dari buku-buku literatur, lewat Dialog-dialog Sok Intelek, dan dari cerita omong kosong orang disekitarnya. Maka apabila kita tanyakan sesuatu pada orang jenis ini, mereka akan menjawab dengan meracau, menyembunyikan ketidaktahuannya dalam omongan cepat, mencari jutaan alasan, atau membelokan arah pertanyaan.

Namun tuhan rupanya menganugerahkan kemampuan khusus pada beberapa orang untuk memberi pencerahan pada sekelilingnya. Agar memberi contoh nyata ideal untuk orang lain. Ayahku terbiasa melakukan sesuatu tanpa harus membual tentang teori-teori, Planning-planning, dan bualan-bualan jenis orang sok pintar lainnya. Dan sampai dewasapun, Aku tak pernah berhenti terkagum-kagum olehnya.
Rupanya, terkadang butuh waktu berpuluh-puluh tahun untuk dapat melihat sisi lain seseorang. Ayahku dengan pendiriannya yang sekuat banteng, dengan legenda tentang lelaki yang berani menantang tuhan dan menaklukan nasib. Ternyata tetaplah seorang manusia. Beberapa moment dimana pria sederhana ini menitikan air mata menisbatkan semuanya. Demi akhirnya bisa menyaksikan luapan emosi ayahku, melihat pria setangguh ini bisa menitikan air mata. Dadaku sesak.

Hatiku remuk.

Aku Rindu Ayahku, Sangat Rindu



Senin, 25 Agustus 2008

FRIENDS OF THE DAY

So Another Year will gone....





Went By In a blur.

Blur of Holidays, home, family,work, school,friends,running,swimming,truth, lies, bad dreams, morning headache, smiles, achievement and accomplishment, and finally...some fake friends out there

It's been quite interesting







Some times, in life....
God doesn't give you the people you want...
Instead he gives you the people you need...
To protect you...
To teach you...
To love you...






And of course to make you stronger, to make you exactly the way you should be...






As long as we have memories, yesterday remains
As long as we have hope, tomorrows awaits
As long as we have love, each day is never a waste